Selasa, 22 September 2015

Seminar Nasional Computer Science - Sebagai Mata Pelajaran dalam Struktur untuk Peningkatan Pendidikan TIK di Sekolah dan Arah Kebijakan Pemerintah pada Kurikulum Nasional



Seminar nasional computer science


Mc                   : Julie Disanti
Moderator       : Imam Suwandi (Metro Tv)
Lagu Indonesia Raya dibawakan oleh Wiwin
Pembacaan doa oleh Bapak Jay
Narasumber     : Indra Charismiaji (Pakar Pendidikan), Ono Widodo Purbo (Pakar IT), Satria Dharma (Ketua IGI Pusat), Heri Widiastono (Dirjen Pusat Kurikulum dan Perbukuan Bagian Tata Laksana dan Kepegawaian), Temu (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan)


Seminar nasional dibuka pertama dengan sambutan oleh para ketua dan perwakilan dari asosiasi guru-guru TIK KOGTIK dan AKTIFINDO. Sambutan oleh perwakilan ketua KOGTIK (Wijaya Kusuma) menghimbau para peserta yang hadir untuk mengikuti dengan seksama seminar tentang computer science  yang diselenggarakan. Ketua AKTIFINDO Faturrahim menyampaikan harapannya yakni dorongan dan agar TIK tetap masuk dalam kurikulum pendidikan, melihat bahwa beberapa negara telah memasukan TIK dalam kurikulum pendidikan.

Dilanjutkan dengan penayangan video tentang pentingnya pembelajaran computer science. Video pertama yang ditayangkan tentang rapat dengan menteri pendidikan. Harapan Anies Baswedan Indonesia bisa menjadi negara produktif dan mandiri secara teknologi, bukan sekedar menjadi negara konsumsi. Agar Indonesia tidak lagi terjajah, harus menjadi tuan rumah teknologi, pemain dan produktif TIK. Video kedua tentang gagasan Obama yang menghimbau agar masyarakat tidak hanya bermain games tapi juga menciptakan aplikasi games. Lalu dilanjutkan dengan video tentang homeless programmer yang bisa berhasil dengan memanfaatkan computer science. Dalam video tersebut menjelaskan bagaimana computer science  adalah sebuah skill  yang mampu menyejahterakan setiap pelakunya jika dimanfaatkan dengan baik. Dalam seminar nasional yang direncanakan dengan kehadiran Mendikbud kali ini diwakili dengan pemutaran video tentang rapat atau diskusi bersama menteri dengan perwakilan guru TIK demi mempertanyakan nasib mata pelajaran TIK yang tidak tercantum dalam kurikulum 2013.

Moderator Imam Suwandi (Metro Tv) memberikan waktu 3 menit pertama untuk menanggapi video-video yang telah ditampilkan di awal seminar kepada para narasumber.

Bapak Temu (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan) pada seminar nasional komputer sains kali ini menjelaskan bahwasanya dalam Dirjen GTK sedang dicanangkan peningkatan mutu guru (perencanaan kebutuhan guru, pendataan, rekrutmen guru, pembinaan karir, calon pendidik, dan pelibatan publik), dia sepakat guru dan siswa  mesti belajar computer science. Lalu dilanjutkan di sesi berikutnya dia menayangkan video tentang wajah pendidikan di nusantara khususnya dari timur nusantara. Bagaimana wajah pendidikan nusantara yang masih belum merata jika diharuskan untuk menjadikan TIK sebagai kurikulum nasional.

Heri Widiastono (perwakilan Dirjen Pusat Kurikulum dan Perbukuan Bagian Tata Laksana dan Kepegawaian) sebagai penanggungjawab pengembangan kurikulum 2013 pada seminar nasional komputer sains kali ini dia membahas tentang kurikulum 2013 yang harus mendengar masukan dari publik setelah diterapkan hanya untuk 6-7% sekolah di seluruh Indonesia. Sisanya diperbolehkan untuk mengambil kebijakan sendiri atau mengacu kepada KTSP 2006. Dia menjelaskan mengapa kurikulum harus selalu berubah, itu semata dikarenakan kurikulum mesti mengikuti zamannya, kita tidak ingin ketinggalan atau siswa mempelajari mata pelajaran yang tidak sesuai dengan zamannya.

Pada saat itu TIK tidak masuk mata pelajaran, tapi dialihkan sebagai kemampuan yang mesti dimiliki oleh setiap sekolah yang punya sarana dan prasarana yang merata. Karena pada dasarnya masih ada sekitar 30% sekolah-sekolah yang belum dapat listrik ketika 2013. Sekarang jumlahnya berkisar di angka 15-20%. Setelah peniadaan TIK yang tidak masuk kurikulum sekolah timbul masalah yang pertama yakni guru TIK kehilangan jam mata pelajaran dan kedua guru TIK menuntut agar TIK menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri, solusinya dari KEMDIKBUD adalah TIK masuk lintas minat/pendalaman minat/Bahasa Inggris/TIK yang bisa diterapkan sekolah yang sudah mempunyai fasilitas yang mumpuni tetapi tetap tidak masuk dalam kurikulum nasional.

Indra Charismiaji (Pakar Pendidikan) pada seminar nasional komputer sains kali ini setelah diberi waktu dan kesempatan Indra Charismiaji rupanya benar-benar mengerti waktu tiga menit yang diberikan pertama oleh moderator untuk mengomentari tentang tayangan video yang diputar di awal seminar. Indra charismiaji mengomentari dengan kritis bahwa dua tayangan pertama tentang pejabat pemerintahan yang mengarahkan kepada publik untuk membuat aplikasi atau memanfaatkan teknologi hanya sekedar wacana dan nasehat belum mengarah kepada pembuat kebijakan strategis untuk computer science. Lalu Indra Charismiaji memetik pesan yang disampaikan dalam video seorang pengemis yang didatangi oleh seorang karyawan untuk diberi dua pilihan, yakni mau diberi uang seratus dolar atau mau dibelikan sebuah komputer bekas dengan tambahan diajarkan untuk belajar koding untuk membuat aplikasi. Pada akhirnya sang pengemis memilih untuk diajarkan untuk membuat koding dan ia akhirnya menjadi sejahtera karena keahliannya bisa berguna untuk menyejahterakan kehidupannya.
Indra menjelaskan bahwa Computer Science adalah Computational Thinking, bagaimana siswa yang mempelajarinya diajarkan cara berpikir kritis, kreatif dan mengembangkan masalah teknologi. Computer science ada 4 tahapan; 1. Penguraian/Compotition menguraikan maslah besar menjadi masalah yang lebih kecil, 2. Pattern Recognition/pengenalan pola memilah pola yang sama dan berbeda, contoh: soal surat menyurat bisa lebih mudah dan ringkas, 3. Abstraction memilah yang penting dan tidak penting, 4. Setting/Design Algorithm

Satria Dharma (Ketua IGI Pusat) pada seminar nasional komputer sains kali ini di tiga menit pertama menjelaskan tentang perbedaan antara teknologi informasi dan computer science. Satria Dharma cenderung menunjukan jawaban pesimistis untuk menerapkan TIK ke seluruh Indonesia dalam artian memasukannya ke dalam kurikulum nasional, karena menurutnya masih banyak mata pelajaran yang lebih prioritas untuk diterapkan dan masuk sebagai prioritas kurikulum nasional seperti membaca dan menulis. Membaca adalah dasar dari semua kelimuan, bagaimana bisa kita sebarkan minat baca yang tinggi ke seluruh Indonesia, kita semua sepakat untuk sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa tentunya dengan membaca.

Ono Widodo Purbo (Pakar IT) pada seminar nasional komputer sains ini menjelaskan pemikiran Obama dan Anies Baswedan ini hebat dan luar biasa, gagasan yang dicetuskan mereka ini benar bayangkan dalam satu hari kita sudah bisa membuat aplikasi android yang bisa dimanfaatkan jadi pada dasarnya kita bisa berubah asalkan ada kemauan.
Computer science  itu murah, praktis, dan bisa dibuat dimana saja kapan saja asal mau berubah. Scratch, raspberry contohnya komputer yang harganya sekitar 150 ribuan atau 35 dolar yag paling bagus ini bisa dicas menggunakan telepon genggam atau power bank. Ono menjelaskan bahwa anak-anak kita harus dilatih menggunakan internet  tanpa server yang harganya puluhan juta, solusinya yakni bikin server sendiri, e-learning sendiri, digital library sendiri, dengan harga server sekitar 10 jutaan daripada beli mesin fotokopi seharga 10 juta mending bikin server sendiri seharga 10 jutaan. Bisa digunakan untuk para siswa di pedalaman.  
Intinya banyak jalan menuju Roma agar TIK masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Terutama teknik, untuk mewujudkan Indonesia yang madani orang kita harus banyak mencipta bukan hanya sekedar membaca tapi sudah juga menulis, menulis yang banyak karena tidak mungkin orang bisa menulis tanpa membaca. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Pertanyaan peserta:
1.      Ibu Eni Suryaninsih dari Kab.Tangerang : computer science  berkarakter konkrit, amat dibutuhkan, sebagi contoh proses penyerbukan-pembuahan pada tumbuhan (proses manual itu lama sekali hingga 2 minggu) sedangkan proses virtual itu bisa lebih singkat. Jika TIK hanya menjadi peminatan, bagaimana jika siswa tidak berminat padahal ini sangat dibutuhkan. Pertanyaan yang kedua apa keunggulan produk EDMUNDO?
2.      Erlina dari Pelangi Cyber School. Virtual lab menjadi lebih mudah dan waktunya lebih singkat ketika kita menguasai TIK. Pertanyaannya apakah guru-guru kita mampu menggunakan TIK di setiap pembelajarannya?
3.      Enggar dari SMA 71 JAKARTA. Pernyataan tentang perlunya TIK atau computer science  di sekolah.
4.      Agung dari SKMN 13. Apa keunggulan dan kekurangan TIK ada di sekolah?


Kesimpulannya TIK atau computer science  belum bisa dijadikan kurikulum nasional karena banyak kendala yang akan ditemui ketika menjadikan mata pelajaran TIK atau computer science  menjadi 24 jam penuh. Jalan tengah yang diambil oleh kemdikbud yakni TIK boleh diterapkan menjadi kurikulum sesuai dengan kebijakan sekolah masing-masing sama halnya ketika KTSP dilaksanakan pada 2006. Para guru TIK dan asosiasi guru TIK akan tetap berusaha untuk memperjuangkan agar mata pelajaran TIK bisa masuk ke dalam kurikulum nasional. Demikianlah ringkasan seminar nasional yang berjalan dengan sukses, semoga masih ada harapan agar Indonesia bisa menjadi poros kemajuan teknologi minimal se-Asia Tenggara. Sekian dan terima kasih.


Rabu, 16 September 2015

Ice Breaking Games Menurut Bentuknya


Ice Breaking Games

Ice breaking berguna untuk mencairkan suasana yang terlihat terlalu kaku atau terlalu serius ketika dalam ruangan atau di luar ruangan, terutama digunakan ketika seminar atau pelatihan. Ice breaking menjadi hal yang penting karena tanpa ice breaking sebuah pelatihan atau seminar menjadi terlihat begitu kaku dan datar. Paparan si pemateri menjadi membosankan selama berjam-jam padahal secara psikis seseorang akan menjadi bosan dan cepat ngantuk ketika selama pelatihan hanya disajikan penjelasan materi selama berjam-jam. 

Ice breaking merupakan sebuah metode gabungan dari permainan dan pembelajaran yang menyenangkan. Ice breaking sudah mulai diadaptasi agar bisa digunakan dalam pembelajaran di sekolah. Adanya hal ini akan mendukung pembelajaran dan wajah pendidikan ke arah yang lebih baik lagi.

Ice breaking banyak bentuknya, mulai dari permainan di tempat duduk, secara berdiri, ataupun permainan yang menuntut banyak gerak dalam ruangan atau di luar ruangan. Orang yang memandu ice breaking biasa disebut dengan icebreaker. Seorang icebreaker yang handal akan melihat kondisi ruangan, usia peserta, dan materi yang sesuai dengan seminar yang sedang diadakan. Lalu ada juga yang kita kenal sebagai games master, seorang games master mampu membuat berbagai macam gamesnya sendiri dan memodifikasinya sesuai tuntutan pelatihan. Games master biasa dipakai ketika outbound, seorang games master akan memandu outbound dari awal perkenalan hingga akhir permainan outbound.

Ice breaking menurut bentuknya:

Ice breaking menurut bentuknya dibagi menjadi tiga bentuk, yang pertama ice breaking di tempat duduk, ini bisa dimodifikasi sedemikian rupa bergantung kepada seorang icebreaker atau games master yang mengarahkan. Contoh ice breaking di tempat duduk yakni: say hello-hai, tepuk semangat, tepuk tujuh, tepuk gila, kerajaan lawan, dll. 

Kedua, ice breaking dengan berdiri. Ice breaking yang bisa dipakai ketika berdiri juga banyak, kita hanya perlu mengubah dan memodifikasinya. Say hello-hai, tepuk semangat, bos berkata, bapa-ibu, goyang trek-jeng, balonku, naik ke puncak gunung, dll.

Ketiga, ice breaking dinamis.  Ice breaking ini membutuhkan tempat yang agak luas karena akan memakai ruang yang lebih dibanding ice breaking lainnya. Contohnya adalah permainan werdower, lampu merah, nyiur melambai, capcipcup, rantai problem solve, opposite, dll.

Dalam dunia pendidikan, ice breaking bisa digunakan yakni memadukannya dengan mata pelajaran yang sesuai. Memadukannya dengan mata pelajaran semata-mata untuk memodifikasi cara atau metode pengajaran agar lebih disukai dan terlihat menyenangkan bagi para siswa. Metode pengajaran yang baik adalah yang disukai oleh siswa, dengan memberikan metode pengajaran yang menyenangkan maka pendidikan akan menjadi prioritas bagi para siswa tanpa harus susah payah menyediakan fasilitas yang mewah dan serba digital. Banyak sekolah di negara maju seperti Eropa dan Asia memilih untuk menyediakan guru, materi, dan metode pendidikan yang berkualitas terlebih dahulu bagi siswa untuk mendorong kualitas pendidikan mereka. Jika kita lihat negara seperti Finlandia, Jepang, Jerman, Canada, dan sebagainya maka kita akan lihat kesuksesan pendidikan mereka terletak pada guru, materi, dan metode yang bermanfaat bagi anak didik. Artinya pendidikan bukan lagi sekedar alat agar para siswa dapat lulus ujian atau sekolah melainkan agar para siswa mampu mengaplikasikan apa yang mereka dapat dari sekolah, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Sederhananya, semoga dengan ice breaking yang beragam bisa meningkatkan tata cara mengajar guru di sekolah, dengan begitu anak-anak akan lebih bersemangat untuk mendapatkan pelajaran berikutnya. Pendidikan yang menyenangkan untuk generasi Indonesia yang lebih kreatif, cerdas, berguna, dan madani.

Lihat videonya di youtube: 














Minggu, 13 September 2015

Pendidikan yang Menyenangkan

Pendidikan yang  Menyenangkan

sumber: http://goo.gl/qk6PRz

Pendidikan yang menyenangkan. Setujukah kita jika pendidikan dirubah menjadi sebuah kata yang bisa dirubah secara struktural menjadi frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana yang akan berujung pada tindakan yang menyenangkan. Memulainya sejak para orang tua yang sedang mencari pasangan hidup lalu menikah dengannya, memperoleh keturunan, mendidik sejak dalam kandungan dengan mengonsumsi gizi terbaik untuk tubuh dan jiwa, lalu menyekolahkan anak sejak bayi, anak-anak, remaja, hingga dewasa dengan pendidikan yang mendidik agar mereka menjadi terdidik dan kembali lagi bisa meneruskan apa yang telah orang tua mereka lakukan terhadap mereka untuk berbuat hal yang sama dan begitu seterusnya. Melakukan semua itu dengan tidak lupa untuk menjadi menyenangkan. Hal penting yang sering terlupakan oleh para orang tua, guru, pendidik atau apapun julukan mereka yaitu menjadi "menyenangkan" untuk generasi berikutnya.

Beberapa waktu lalu, kami sempat mengisi sebuah acara untuk meningkatkan kualitas guru-guru di Jakarta. Hal yang membuat otakku berputar dan tidak henti-hentinya memikirkan hal itu yakni slogan yang dipaparkan seorang guru ketika mereka mempresentasikan penjelasan materi yang telah kami ajarkan kepada mereka yakni slogan "PAIKEM" yang ternyata slogan tersebut terpampang besar di ruangan tersebut yang berakronim pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pendidikan yang menyenangkan akan membuat pembelajaran menjadi sempurna.

Sesungguhnya pendidikan bagaimanapun bentuknya akan menjadi lebih menarik dan membuat ketagihan ketika disajikan dengan PAIKEM ini. Dalam otak manusia ada zat yang dilepaskan untuk membuat perasaan senang ketika seseorang dilanda stres, sedang olahraga, tertawa, memakan makanan pedas, dan sebagainya. Zat ini membuat ketagihan karena perasaan senang tersebut. Kita ambil pemikiran sederhananya saja, bagaimana jika dengan pendidikan yang menyenangkan bisa membuat anak-anak Indonesia menjadi ketagihan dalam belajar, maka sudah pasti pendidikan atau pembelajaran menjadi perhatian utama anak-anak Indonesia. 

Sama halnya anak-anak yang selalu mendapat peringkat satu atau dua di kelas, yang lebih dominan secara akademis bukan semata-mata karena mereka punya bawaan lahir sebagai anak yang cerdas melainkan mereka punya sesuatu di otak mereka yang membuat mereka ketagihan untuk belajar dan belajar. "Ketagihan" adalah hal yang paling berbahaya yang ada di otak manusia, sama halnya seperti penyakit yang bernama "Fanatisme" sekali saja seseorang atau kelompok tertentu terjangkit penyakit ini maka si penderita akan sulit untuk menerima hal yang bertentangan dengan mereka meskipun itu berasal dari kebenaran itu sendiri. Sisi baiknya adalah ketagihan ini akan memunculkan wajah baru Indonesia yang sepenuhnya terdidik, melahirkan sebuah bangsa yang terdidik adalah impian semua bangsa maju di dunia. Kita tidak perlu repot-repot berteriak menyuruh orang untuk bisa tertib dimanapun ia berada. Karena bangsa yang terdidik sudah pasti mencintai ketertiban, keamanan, kenyamanan, keindahan, kebaikan dan masih banyak lagi sifat-sifat baik yang selalu kita inginkan terjadi pada bangsa ini. Pada dasarnya membuat pendidikan yang menyenangkan adalah sebuah sarana untuk memajukan bangsa secara instan.

Jawaban pertanyaannya adalah bagaimana bisa kita membuat pendidikan menjadi hal yang menyenangkan yang disukai oleh setiap anak, dengan begini pendidikan akan selalu membuat ketagihan karena dorongan zat endorfin yang ada di dalam otak manusia mendorong manusia untuk selalu ketagihan dengan hal yang menyenangkan dalam hal ini yakni pendidikan yang menyenangkan. Mari duduk bersama merumuskan hal ini, karena masih panjang pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan untuk membuat bangsa ini menjadi bangsa yang terdidik dan terlatih menjadi bangsa yang maju. 

Semoga tulisan ini sedikit memberi kita pencerahan untuk selalu berbuat untuk pendidikan nasional, untuk anak-anak Indonesia, pendidikan yang menyenangkan.









Jumat, 04 September 2015

Strategi Pendidikan




 Strategi Pendidikan
sumber: http://goo.gl/B1j0vR


Strategi pendidikan merupakan hal yang perlu dipikirkan matang-matang oleh para pemimpin bangsa. Jangan sampai pendidikan hanya bisa dinikmati segelintir orang dan menjadi barang yang langka. Pendidikan hari ini menjadi barang mewah yang hanya bisa dibeli orang-orang kaya, adalah ungkapan yang sering kita dengar dari para pedagang kecil dan orang-orang yang melihat sekolah sebagai momok menakutkan yang akan menghabiskan banyak biaya dan akan menyengsarakan dikemudian hari. Untuk membeli makan saja susah, apalagi untuk membiayai pendidikan yang begitu mahal. Ungkapan-ungkapan pesimistis ini lahir karena melihat kondisi yang semakin sulit. Orang-orang kecil di luar sana tidak lagi memikirkan hal lain selain untuk bisa bertahan hidup di tengah kondisi perekonomian yang semakin sulit. Bayangkan saja jika dalam satu kelurahan, tiap kepala keluarganya berpikiran seperti ini, maka saya yakin seyakin-yakinnya dalam waktu singkat mereka akan tergilas oleh pesatnya perkembangan zaman. Satu kelurahan tersebut akan tertinggal jauh dengan sekitarnya. Kita memerlukan strategi untuk menyebarkan virus positif yang bernama pendidikan ini hingga ke pelosok nusantara tanpa terkecuali.

Pendidikan adalah modal untuk membiayai kebutuhan kita akan ilmu dan tantangan kehidupan. Oleh karenanya menjadi mutlak untuk punya strategi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang menjadi syarat mutlak kesejahteraan bangsa. Ini penting, karena dengan mempunyai strategi ini pendidikan bisa mengubah cara pandang orang-orang tentang pendidikan yang bisa dijangkau semua kalangan. Pendidikan bukan hanya untuk orang berduit. Pendidikan untuk kita.

Strategi pendidikan dapat digunakan dalam meningkatkan mutu pendidikan, karena merupakan faktor yang penting yang perlu disoroti jika pemerintah maupun swasta ingin secara serius meningkatkan mutu pendidikan nasional. Seperti halnya bisnis beberapa analisis seperti SWOT, SOAR, dan PRA adalah beberapa teknik agar kita dapat menganalisa perencanaan yang baik untuk membuat sebuah usaha. Begitu juga dalam hal pendidikan kita perlu menerapkan strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. 

Ada lima hal yang mesti ditingkatkan untuk menjamin mutu pendidikan melalui strategi pendidikan yang baik, yakni:
Strategi pendidikan yang pertama yakni, Peningkatan Tata Kelola dan Manajemen Pendidikan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus menetapkan sebuah sistem untuk menjamin SDM yang ditempatkan untuk tata kelola dan manajemen pendidikan di tingkat nasional, provinsi, hingga sekolah mempunyai orang-orang dengan kapabilitas yang terjamin mutunya. Karena dengan menempatkan orang-orang hebat maka secara otomatis pula akan memperbaiki sistem tata kelola dan manajemen pendidikannya. Sebaiknya perekrutan dimulai pada akar rumput, seperti yang selalu dikatakan oleh bapak Anies Baswedan. Dilakukan melalui perekrutan semenjak mereka mendaftar ke universitas terbaik, lalu dipantau selama kuliah hingga lulus barulah ditentukan dari jutaan lulusan dipilih sepuluh lulusan terbaik. Dengan metode seperti ini saya yakin beberapa tahun ke depan kita akan memiliki SDM dengan kualifikasi terbaik yang dihasilkan di dalam negeri sendiri. 

Strategi pendidikan yang kedua yakni, Peningkatan Pelayanan Guru. Begitu juga dengan guru-guru kita, kita butuh semacam lembaga untuk menguji tingkat kompetensi guru yang bisa menyeragamkan dan bukan saja untuk sekedar menguji tapi juga bisa melatih guru-guru agar lebih baik lagi, dan mengawasi kinerja guru. Karena jaminan sebuah pendidikan yang berkualitas adalah gurunya juga berkualitas. Metodenya yakni pemilihan calon-calon mahasiswa keguruan adalah harus lulusan terbaik sekolah mereka, setelah itu dipantau hingga mereka lulus kuliah dan berikan jaminan kesejahteraan yang cukup sebagai upah dari kerja keras para guru oemar bakri.

Strategi pendidikan yang ketiga yakni, Peningkatan Pelayanan Siswa. Negara harus menjamin semua anak Indonesia bisa sekolah, tanpa harus memilah dan memilih dari latar belakang mereka. Bagi saya sendiri, tidak ada anak yang malas, tidak ada anak yang nakal, tidak ada anak yang bodoh. Semua anak sama. Mereka adalah kertas putih yang menunggu kita torehkan tinta emaskah, putihkah, hitamkah, atau warna apapun sekehendak hati kita. Sederhananya adalah jika dalam satu kelurahan terdapat seribu kepala keluarga maka wajib hukumya ada sepuluh sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di kelurahan tersebut baik itu swasta ataupun negeri. Sebagai jaminan agar tiap anak bisa bersekolah. 

Strategi pendidikan yang keempat yakni, Pelayanan prasarana dan sarana. Peningkatan prasarana dan sarana juga penting, karena elemen ini adalah salah satu penunjang agar pendidikan bisa berjalan dengan baik, nyaman, dan ramah untuk semua kalangan. Pemerintah dalam mewujudkan dan mengatur hal tersebut melalui PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Jika pemerintah belum bisa mengalokasikan amanat undang-undang seharusnya sekolah diberikan kewenangan untuk mencari bantuan dari luar selain harus membebankannya ke siswa dan orang tua siswa. Semata-mata agar terpenuhinya pelayanan prasarana dan sarana yang baik.

Strategi pendidikan yang kelima yakni, Peningkatan Prestasi Pendidikan. Peningkatan prestasi pendidikan semata-mata bukan hanya dengan melihat semua nilai seorang anak itu mendapat angka 9 atau 10 pada semua mata pelajaran. Seorang guru yang baik akan membuat para muridnya duduk dan mendengarkan apa yang diucapkan sang guru, seorang guru yang pintar akan membuat para muridnya lulus ujian, dan seorang guru yang cerdas akan mengembangkan potensi anak sesuai dengan bakat dan kemauan sang anak. 

Strategi yang keenam yakni, Integrasi Sistem Informasi Pendidikan. Dengan terintegrasinya sistem informasi pendidikan akan membuat semua aktifitas pendidikan itu sendiri berjalan cepat dan mudah diakses, sehingga kendala dan kebutuhan apapun yang menunjang jalannya pendidikan dapat cepat terselesaikan dan tersedia. Sehingga pada akhirnya semua kekurangan yang selama ini sulit dan lambat ditangani bisa menjadi kunci suksesnya pendidikan nasional yang merata tanpa ada kendala yang berarti. 

Semoga bermanfaat tulisan tentang strategi pendidikan kali ini. Jika bermanfaat tolong sebarkan ya. Terima kasih. 




Pendidikan Nasional


Pendidikan Nasional
 sumber : https://goo.gl/ROXf0d


Pendidikan nasional adalah gagasan istimewa tentang pendidikan yang merata ke seluruh pelosok Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Pendidikan tanpa diskriminasi. Pendidikan yang akan mengubah wajah Indonesia ke arah yang lebih baik, seperti cita-cita rakyat Indonesia yang mengharapkan bahwa pendidikan bisa tersentuh oleh semua kalangan. Kaya miskin, pintar bodoh, cakap jelek, suku apapun, selama anda adalah bagian dari bangsa Indonesia maka anda berhak seutuhnya mendapatkan pendidikan. 

Janji pendidikan nasional tertuang dalam butir Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 menyatakan, "setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan", dan ayat 2 "setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya".

Ini adalah janji negara kepada rakyatnya untuk meningkatkan pendidikan nasional, bahkan hari ini jumlah dana yang dialokasikan dalam APBN dan APBD untuk anggaran pendidikan sudah mencapai 20 persen. Bayangkan saja jika APBN pemerintah dalam satu tahun adalah seribu triliyun maka anggaran untuk pendidikan nasional adalah dua ratus triliyun. dengan uang sebegitu banyaknya, bayangkan berapa banyak sekolah dasar yang bisa dibangun, luar biasa banyaknya bukan. 

Berlimpahnya dana yang dialokasikan untuk pendidikan dan jaminan undang-undang untuk pendidikan nasional tidak semata-mata bisa menyelesaikan masalah pendidikan nasional secara keseluruhan. Menjadi pertanyaan berikutnya adalah mampukah sistem pendidikan nasional kita yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan menyebar merata ke seluruh pelosok negeri yang kaya ini menyentuh tangan-tangan kumal rakyat yang berada di teras negeri kepulauan terbanyak di dunia ini. Karena penelitian tentang daerah tertinggal di Indonesia menyebutkan bahwa masih banyak anak-anak negeri ini tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena masalah akses dan guru yang tidak sampai ke sekolah mereka.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 September 2008 muncul film yang menggemparkan Indonesia setelah munculnya film-film religius, yang sekaligus menjadi tonggak bangkitnya lagi perfilman dalam negeri. Laskar Pelangi, film ini menjadi film berlatarbelakang pendidikan pertama setelah beberapa dekade film Indonesia vakum yang menjadi tonggak bangkitnya film Indonesia. Film ini ditonton hampir 4,6 juta orang, berlatarkan tempat di Belitong tepatnya sebuah sekolah madrasah swasta yang sedang diperjuangkan agar tetap berdiri dengan syarat sepuluh murid harus menjadi siswa-siswa aktif di dalamnya. Menjadi perhatian kita berikutnya adalah seberapa banyak murid yang bersekolah disana setelah mereka lulus. Sekolah mereka adalah sekolah madrasah, swasta, di luar jawa pula. Mereka memang belum menggambarkan tentang pendidikan nasional secara keseluruhan, tapi mereka adalah salah satu dari ribuan sekolah yang bisa menggambarkan tentang sistem pendidikan nasional yang belum merata.

Hal yang maklum tentang pendidikan nasional kita pahami secara mendalam bahwa pendidikan selalu terpusat di pulau Jawa karena Jawa sebagai pusat pemerintahan. Lantas bagaimana tanggapan pemerintah setelah film ini keluar yakni patut kita syukuri tanggapan positif dan respon baik dari pemerintah maupun pihak lainnya. Termasuk salah satunya adalah seorang bapa dari empat anak yang kini menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan ke-29, Anies Baswedan juga segera merespon positif kehadiran film tersebut dan segera merumuskan cikal bakal Indonesia Mengajar yang menjadi pelopor anak-anak muda untuk bisa mengajar ke pelosok nusantara. Gagasan istimewa dari seorang rektor termuda saat itu.

Mari bersama-sama membangun Indonesia, membangun sistem pendidikan nasional yang merata karena pendidikan adalah janji kemerdekaan, hak semua rakyat Indonesia.






Kamis, 03 September 2015

Artikel Pendidikan tentang Generasi Digital yang Lahir Hari Ini


Artikel Pendidikan tentang Generasi Digital yang Lahir Hari Ini

sumber: http://goo.gl/v8pp3B

Artikel pendidikan kali ini berbicara tentang pendidikan itu sendiri yang sayang jika dilewatkan karena materi ini tidak akan ada habisnya untuk terus dikaji mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang. Bayangkan saja jika sebuah bangsa menetapkan bahwasanya pendidikan mereka harus berhenti pada suatu masa dan tidak ada yang dapat dirubah lagi maka sebenarnya mereka sedang berada dalam kebodohan yang abadi, karena pada hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial saja berubah dan terus mengalami perubahan dari masa ke masa.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa demografi penduduk dapat dikelompokan dari generasi ke generasi tertentu pada tingkatan yang dapat dikelompokan menurut zamannya. Menurut Don Tapscott dalam bukunya yang berjudul Grown Up Digital, pengelompokan demografi penduduk itu dilihat dari tahun kelahirannya.
  • Sebelum 1945 disebut pre baby boom
  • 1946 – 1964 disebut the baby boom
  • 1965 – 1976 disebut Generasi x
  •  1977 – 1997 disebut Generasi y
  • 1999 – 2009 disebut Generasi z
  • 2010 – sekarang disebut Generasi  a
Tidak salah jika ada pengelompokan demografi penduduk dari generasi ke generasi tertentu, justru akan memudahkan kita menganalisa manusia itu sendiri. Menurut Don Tapscott dalam bukunya tersebut yang perlu digarisbawahi adalah kita patut memikirkan bagaimana cara mendidik anak-anak yang lahir sebagai digital native seperti saat ini, mereka tentunya berbeda dengan kita yang dulu dilahirkan sebagai digital immigrant karena kita mesti beradaptasi dengan dunia digital. Kaitannya dengan pendidikan adalah anak-anak yang lahir era sekarang adalah anak-anak yang multitasking, dalam satu waktu mereka bisa menggunakan 5-6 perangkat dan aplikasi komputer secara bersamaan yang secara tidak langsung juga mempengaruhi cara berpikir dan perilaku para digital native. Zaman terus berubah, oleh karenanya para pelaku pendidikan harus terus membuat inovasi dan kreatif untuk menyeimbangkan perkembangan teknologi.

Kembali lagi kita bahas tentang artikel pendidikan ini, jika pendidikan disebut sebagai alat perubahan atau sebuah perangkat untuk meningkatkan kesejahteraan maka hal ini memang benar. Bayangkan jika orang-orang berlomba seumur hidupnya tanpa pendidikan, maka mereka akan berhenti pada tahapan mereka saat itu juga atau mungkin tergerus lebih dalam pada jurang kehancuran. Mereka hanya akan jadi sampah zaman, terbuang dihanguskan atau terpinggirkan menunggu hilang.

Sebagai contoh aku mempunyai kedua orang tua yang amat giat bekerja demi anak-anaknya yang hanya berjumlah tiga orang. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adik-adikku adalah perempuan. Aku sebagai anak pertama merasa paling bertanggung jawab untuk bisa sukses karena berkaca pada kedua orangtuaku yang bekerja hampir seluruh hidupnya untuk menghidupi kami bertiga. Ayah dan ibuku adalah penjual nasi rames yang berada di pinggir jalan di salah satu jalan raya di Jakarta, mereka berdagang sudah lebih dari puluhan tahun dengan berbagai macam variasi dagangan yang sudah mereka lakoni selama puluhan tahun dan mereka hanya bisa menghidupi kami sehari – hari dengan keuntungan yang tidak seberapa. Tapi beruntungnya aku sebagai anak pertama sekarang sudah bisa lulus sarjana di salah satu universitas negeri di Jakarta. Ketika kuliah hal yang ada dalam pikiranku hanya satu, yakni dengan pendidikan yang kutempuh berharap setelah lulus bisa menyejahterakan kehidupan kami. Terutama kedua orangtuaku yang telah bekerja selama puluhan tahun menghabiskan hidup mereka demi kami, aku dan adik-adikku. Sebagai agen perubahan dalam keluargaku maka aku tulis artikel pendidikan yang tidak seberapa ini agar dapat menginspirasi kawan-kawan untuk tetap mendapatkan hak pendidikan dari orang tua kalian. 

Kedua orangtuaku adalah orang yang giat bekerja, membayangkan mereka bangun subuh ketika ayam baru mulai membuka mata hingga bulan tepat di atas kepala mereka baru pulang ke rumah dengan kondisi badan yang tidak sekuat ketika masih muda. Namun yang mereka juga sesalkan adalah mereka mengakui pendidikan mereka hanya lulus sekolah rakyat setingkat SD ketika mereka kecil. Mereka kadang suka bercerita seandainya mereka bisa sekolah tinggi mungkin mereka akan punya kehidupan yang jauh lebih baik daripada berdagang hampir seumur hidup mereka. Mereka juga bercerita tentang saudara-saudara mereka atau tetangga mereka yang bisa sekolah tinggi kini punya kehidupan yang jauh lebih baik dibanding mereka. Tanpa mengesampingkan rasa syukur terhadap Ilahi yang telah membuat keadaan jauh lebih baik daripada orang yang tinggal di bawah kolong jembatan ataupun di pinggir kali yang selalu banjir. Dalam banyak artikel pendidikan yang sering kubaca, benang merah pendidikan kita yang kurang bergairah adalah karena masalah ekonomi. Orang-orang lebih meprioritaskan untuk bisa bekerja sedini mungkin untuk membantu ekonomi keluarga, padahal dengan meraih pendidikan tinggi maka harkat, martabat dan kesejahteraan bisa terangkat. Pola pikir yang seperti ini yang harus kita rubah dalam masyarakat kita.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang amat penting. Beruntungnya aku bisa mengenyam pendidikan hingga lulus sarjana. Tapi apakah benar pendidikan adalah satu-satunya alat untuk meningkatkan keejahteraan. Tidak juga, karena ada juga para pengusaha yang tinggi tingkat kesejahteraannya hanya mengenyam pendidikan seadanya. Aku sempat bertemu dengan beberapa kenalan yang mengalami hal ini, artinya mereka tidak perlu sekolah tinggi-tinggi namun tetap bisa sejahtera dengan pekerjaannya. Namun, dari hampir semua kenalan yang mengalami hal ini ada poin penting juga yang bisa kupetik dari cerita mereka yakni ternyata mereka juga mendapat pendidikan namun tidak secara formal, melainkan berupa pembelajaran dari kehidupan yang begitu panjang untuk bisa membuat mereka sejahtera dan sukses secara materi. Jadi pada dasarnya pendidikan atau pembelajaran itu dapat diambil dari mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja dan yang lebih sering mereka sampaikan adalah mereka jika diberi pilihan untuk bisa melanjutkan pendidikan sewaktu kecil mereka akan terus bersekolah setinggi-tingginya. 

Kasusku dalam artikel pendidikan kali ini, terutama kedua orangtuaku sekarang yang membuat mereka hanya berdagang dengan luas warung yang bertambah sempit karena mereka kurang belajar dari orang-orang yang bisa sukses walaupun dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Sementara mereka yang bisa sukses di luar sana karena semangat mereka untuk tetap belajar dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang. Generasi hari ini adalah generasi digital, anak-anak yang lahir hari ini merupakan generasi yang sudah secara lahiriyah mereka sebagai pengguna digital. Jadi kita biarkan para orangtua yang lahir pada zaman mereka dengan segala keterbatasan mereka kita pahami, kita maklumi, dan kita hormati. Kita yang hidup hari ini dan sudah aktif menjadi digital native ataupun masih sebagai digital immigrant, tugas kita memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pendidikan yang lebih baik bahkan untuk kemajuan bangsa.

Pendidikan formal ataupun nonformal adalah alat kita untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Belajar tak kenal henti dari buaian hingga ke liang lahat. Belajar, belajar, dan belajar. Sekian artikel pendidikan yang singkat ini selanjutnya akan terus kami perbaiki tulisan kami dan akan kami perbaharui selalu, kurang lebihnya kami ucapkan terima kasih. Wassalam.

Jumat, 28 Agustus 2015

Pendidikan Karakter Abad 21


Pendidikan Karakter Abad 21

sumber: http://goo.gl/DLUbAF


Pendidikan karakter untuk kriteria abad 21 ini ada sekitar tujuh keahlian yang harus dimiliki untuk memenuhi kriteria tersebut, yakni: 

1. Critical Thinking and Doing - semua pelajaran yang menyangkut pendidikan di masa ini harus memenuhi kriteria ini, yakni mendidik siswa agar mampu berpikir kritis dan melakukannya. Bukan hanya menjadi orang yang bisa mengkritisi saja melainkan mampu melakukannya minimal untuk dirinya sendiri.


2. Creativity - kreatifitas adalah bagian dari pendidikan karakter, karena kreatifitas mampu memecahkan masalah yang rumit menjadi masalah mudah. Dengan kreatifitas seorang wirausaha mampu menciptakan berbagai kreasi dari satu jenis makanan, dengan kreatifitas seorang guru mampu membuat kelas yang gaduh menjadi tenang dan di bawah kendalinya, dengan kreatifitas seorang seniman mampu menciptakan apapun yang dia inginkan.

3. Collaboration - kolaborasi akan mewujudkan cita-cita bersama. Terkadang sebuah ide atau rencana hanya akan jadi rencana, ketika dikerjakan bersama maka ide atau rencana dengan mudah terselesaikan. Ibarat lidi yang terpecah akan mudah dipatahkan ketika bercerai-berai, ketika mereka bersatu maka akan sulit untuk mematahkannya.

4. Cross Cultural Understanding - dengan saling memahami kebudayaan orang lain akan memudahkan kita menjadi bagian dari mereka. Setelah menjadi bagian dari kebudayaan orang lain maka dengan mudah kita melakukan apapun bersama mereka. Karena kita hidup sebagai makhluk sosial yang juga harus beradaptasi dengan kebudayaan orang lain.

5. Communication - komunikasi adalah salah satu pendidikan karakter abad 21 dikarenakan komunikasi abad ini bukan hanya komunikasi secara verbal, melainkan juga komunikasi menggunakan teknologi. Teknologi menjadikan komunikasi menjadi amat bervariasi termasuk juga dalam hal pendidikan.

6. Computing / ICT Literacy - melalui komputerisasi semua menjadi terlihat lebih mudah. Semua hal-hal yang berbentuk digital dan dikomputerisasi menjadikannya lebih sederhana dan dapat diakses dimanapun dan kapanpun dengan perangkat apapun. Meskipun terkadang ada hal-hal negatifnya, tetapi masih bisa dicegah dan diamankan dengan sistem yang bisa dipelajari.

7. Carreer and Learning Self-reliance - tujuan dari pendidikan karakter tujuh keahlian abad 21 ini adalah agar pendidikan mampu melahirkan siswa-siswa yang mandiri dalam menentukan karirnya di masa depan dan mampu mempelajari apapun secara mandiri setelah mendapat pendidikan karakter yang tepat.

Demikianlah tulisan sederhana tentang pendidikan karakter yang bisa saya bagikan dalam blog ini, jika ada saran dan kritik silahkan tinggalkan komentar di bawah. Akan lebih bermanfaat bagi saya dan teman-teman yang membutuhkan referensi mengenai artikel pendidikan karakter abad 21 ini. Terima kasih.