Selasa, 22 September 2015

Seminar Nasional Computer Science - Sebagai Mata Pelajaran dalam Struktur untuk Peningkatan Pendidikan TIK di Sekolah dan Arah Kebijakan Pemerintah pada Kurikulum Nasional



Seminar nasional computer science


Mc                   : Julie Disanti
Moderator       : Imam Suwandi (Metro Tv)
Lagu Indonesia Raya dibawakan oleh Wiwin
Pembacaan doa oleh Bapak Jay
Narasumber     : Indra Charismiaji (Pakar Pendidikan), Ono Widodo Purbo (Pakar IT), Satria Dharma (Ketua IGI Pusat), Heri Widiastono (Dirjen Pusat Kurikulum dan Perbukuan Bagian Tata Laksana dan Kepegawaian), Temu (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan)


Seminar nasional dibuka pertama dengan sambutan oleh para ketua dan perwakilan dari asosiasi guru-guru TIK KOGTIK dan AKTIFINDO. Sambutan oleh perwakilan ketua KOGTIK (Wijaya Kusuma) menghimbau para peserta yang hadir untuk mengikuti dengan seksama seminar tentang computer science  yang diselenggarakan. Ketua AKTIFINDO Faturrahim menyampaikan harapannya yakni dorongan dan agar TIK tetap masuk dalam kurikulum pendidikan, melihat bahwa beberapa negara telah memasukan TIK dalam kurikulum pendidikan.

Dilanjutkan dengan penayangan video tentang pentingnya pembelajaran computer science. Video pertama yang ditayangkan tentang rapat dengan menteri pendidikan. Harapan Anies Baswedan Indonesia bisa menjadi negara produktif dan mandiri secara teknologi, bukan sekedar menjadi negara konsumsi. Agar Indonesia tidak lagi terjajah, harus menjadi tuan rumah teknologi, pemain dan produktif TIK. Video kedua tentang gagasan Obama yang menghimbau agar masyarakat tidak hanya bermain games tapi juga menciptakan aplikasi games. Lalu dilanjutkan dengan video tentang homeless programmer yang bisa berhasil dengan memanfaatkan computer science. Dalam video tersebut menjelaskan bagaimana computer science  adalah sebuah skill  yang mampu menyejahterakan setiap pelakunya jika dimanfaatkan dengan baik. Dalam seminar nasional yang direncanakan dengan kehadiran Mendikbud kali ini diwakili dengan pemutaran video tentang rapat atau diskusi bersama menteri dengan perwakilan guru TIK demi mempertanyakan nasib mata pelajaran TIK yang tidak tercantum dalam kurikulum 2013.

Moderator Imam Suwandi (Metro Tv) memberikan waktu 3 menit pertama untuk menanggapi video-video yang telah ditampilkan di awal seminar kepada para narasumber.

Bapak Temu (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan) pada seminar nasional komputer sains kali ini menjelaskan bahwasanya dalam Dirjen GTK sedang dicanangkan peningkatan mutu guru (perencanaan kebutuhan guru, pendataan, rekrutmen guru, pembinaan karir, calon pendidik, dan pelibatan publik), dia sepakat guru dan siswa  mesti belajar computer science. Lalu dilanjutkan di sesi berikutnya dia menayangkan video tentang wajah pendidikan di nusantara khususnya dari timur nusantara. Bagaimana wajah pendidikan nusantara yang masih belum merata jika diharuskan untuk menjadikan TIK sebagai kurikulum nasional.

Heri Widiastono (perwakilan Dirjen Pusat Kurikulum dan Perbukuan Bagian Tata Laksana dan Kepegawaian) sebagai penanggungjawab pengembangan kurikulum 2013 pada seminar nasional komputer sains kali ini dia membahas tentang kurikulum 2013 yang harus mendengar masukan dari publik setelah diterapkan hanya untuk 6-7% sekolah di seluruh Indonesia. Sisanya diperbolehkan untuk mengambil kebijakan sendiri atau mengacu kepada KTSP 2006. Dia menjelaskan mengapa kurikulum harus selalu berubah, itu semata dikarenakan kurikulum mesti mengikuti zamannya, kita tidak ingin ketinggalan atau siswa mempelajari mata pelajaran yang tidak sesuai dengan zamannya.

Pada saat itu TIK tidak masuk mata pelajaran, tapi dialihkan sebagai kemampuan yang mesti dimiliki oleh setiap sekolah yang punya sarana dan prasarana yang merata. Karena pada dasarnya masih ada sekitar 30% sekolah-sekolah yang belum dapat listrik ketika 2013. Sekarang jumlahnya berkisar di angka 15-20%. Setelah peniadaan TIK yang tidak masuk kurikulum sekolah timbul masalah yang pertama yakni guru TIK kehilangan jam mata pelajaran dan kedua guru TIK menuntut agar TIK menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri, solusinya dari KEMDIKBUD adalah TIK masuk lintas minat/pendalaman minat/Bahasa Inggris/TIK yang bisa diterapkan sekolah yang sudah mempunyai fasilitas yang mumpuni tetapi tetap tidak masuk dalam kurikulum nasional.

Indra Charismiaji (Pakar Pendidikan) pada seminar nasional komputer sains kali ini setelah diberi waktu dan kesempatan Indra Charismiaji rupanya benar-benar mengerti waktu tiga menit yang diberikan pertama oleh moderator untuk mengomentari tentang tayangan video yang diputar di awal seminar. Indra charismiaji mengomentari dengan kritis bahwa dua tayangan pertama tentang pejabat pemerintahan yang mengarahkan kepada publik untuk membuat aplikasi atau memanfaatkan teknologi hanya sekedar wacana dan nasehat belum mengarah kepada pembuat kebijakan strategis untuk computer science. Lalu Indra Charismiaji memetik pesan yang disampaikan dalam video seorang pengemis yang didatangi oleh seorang karyawan untuk diberi dua pilihan, yakni mau diberi uang seratus dolar atau mau dibelikan sebuah komputer bekas dengan tambahan diajarkan untuk belajar koding untuk membuat aplikasi. Pada akhirnya sang pengemis memilih untuk diajarkan untuk membuat koding dan ia akhirnya menjadi sejahtera karena keahliannya bisa berguna untuk menyejahterakan kehidupannya.
Indra menjelaskan bahwa Computer Science adalah Computational Thinking, bagaimana siswa yang mempelajarinya diajarkan cara berpikir kritis, kreatif dan mengembangkan masalah teknologi. Computer science ada 4 tahapan; 1. Penguraian/Compotition menguraikan maslah besar menjadi masalah yang lebih kecil, 2. Pattern Recognition/pengenalan pola memilah pola yang sama dan berbeda, contoh: soal surat menyurat bisa lebih mudah dan ringkas, 3. Abstraction memilah yang penting dan tidak penting, 4. Setting/Design Algorithm

Satria Dharma (Ketua IGI Pusat) pada seminar nasional komputer sains kali ini di tiga menit pertama menjelaskan tentang perbedaan antara teknologi informasi dan computer science. Satria Dharma cenderung menunjukan jawaban pesimistis untuk menerapkan TIK ke seluruh Indonesia dalam artian memasukannya ke dalam kurikulum nasional, karena menurutnya masih banyak mata pelajaran yang lebih prioritas untuk diterapkan dan masuk sebagai prioritas kurikulum nasional seperti membaca dan menulis. Membaca adalah dasar dari semua kelimuan, bagaimana bisa kita sebarkan minat baca yang tinggi ke seluruh Indonesia, kita semua sepakat untuk sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa tentunya dengan membaca.

Ono Widodo Purbo (Pakar IT) pada seminar nasional komputer sains ini menjelaskan pemikiran Obama dan Anies Baswedan ini hebat dan luar biasa, gagasan yang dicetuskan mereka ini benar bayangkan dalam satu hari kita sudah bisa membuat aplikasi android yang bisa dimanfaatkan jadi pada dasarnya kita bisa berubah asalkan ada kemauan.
Computer science  itu murah, praktis, dan bisa dibuat dimana saja kapan saja asal mau berubah. Scratch, raspberry contohnya komputer yang harganya sekitar 150 ribuan atau 35 dolar yag paling bagus ini bisa dicas menggunakan telepon genggam atau power bank. Ono menjelaskan bahwa anak-anak kita harus dilatih menggunakan internet  tanpa server yang harganya puluhan juta, solusinya yakni bikin server sendiri, e-learning sendiri, digital library sendiri, dengan harga server sekitar 10 jutaan daripada beli mesin fotokopi seharga 10 juta mending bikin server sendiri seharga 10 jutaan. Bisa digunakan untuk para siswa di pedalaman.  
Intinya banyak jalan menuju Roma agar TIK masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Terutama teknik, untuk mewujudkan Indonesia yang madani orang kita harus banyak mencipta bukan hanya sekedar membaca tapi sudah juga menulis, menulis yang banyak karena tidak mungkin orang bisa menulis tanpa membaca. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Pertanyaan peserta:
1.      Ibu Eni Suryaninsih dari Kab.Tangerang : computer science  berkarakter konkrit, amat dibutuhkan, sebagi contoh proses penyerbukan-pembuahan pada tumbuhan (proses manual itu lama sekali hingga 2 minggu) sedangkan proses virtual itu bisa lebih singkat. Jika TIK hanya menjadi peminatan, bagaimana jika siswa tidak berminat padahal ini sangat dibutuhkan. Pertanyaan yang kedua apa keunggulan produk EDMUNDO?
2.      Erlina dari Pelangi Cyber School. Virtual lab menjadi lebih mudah dan waktunya lebih singkat ketika kita menguasai TIK. Pertanyaannya apakah guru-guru kita mampu menggunakan TIK di setiap pembelajarannya?
3.      Enggar dari SMA 71 JAKARTA. Pernyataan tentang perlunya TIK atau computer science  di sekolah.
4.      Agung dari SKMN 13. Apa keunggulan dan kekurangan TIK ada di sekolah?


Kesimpulannya TIK atau computer science  belum bisa dijadikan kurikulum nasional karena banyak kendala yang akan ditemui ketika menjadikan mata pelajaran TIK atau computer science  menjadi 24 jam penuh. Jalan tengah yang diambil oleh kemdikbud yakni TIK boleh diterapkan menjadi kurikulum sesuai dengan kebijakan sekolah masing-masing sama halnya ketika KTSP dilaksanakan pada 2006. Para guru TIK dan asosiasi guru TIK akan tetap berusaha untuk memperjuangkan agar mata pelajaran TIK bisa masuk ke dalam kurikulum nasional. Demikianlah ringkasan seminar nasional yang berjalan dengan sukses, semoga masih ada harapan agar Indonesia bisa menjadi poros kemajuan teknologi minimal se-Asia Tenggara. Sekian dan terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar