Mc : Julie Disanti
Moderator : Imam Suwandi (Metro Tv)
Lagu Indonesia
Raya dibawakan oleh Wiwin
Pembacaan doa oleh
Bapak Jay
Narasumber : Indra Charismiaji (Pakar Pendidikan), Ono
Widodo Purbo (Pakar IT), Satria Dharma (Ketua IGI Pusat), Heri Widiastono (Dirjen
Pusat Kurikulum dan Perbukuan Bagian Tata Laksana dan Kepegawaian), Temu
(Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan)
Seminar nasional
dibuka pertama dengan sambutan oleh para ketua dan perwakilan dari asosiasi
guru-guru TIK KOGTIK dan AKTIFINDO. Sambutan oleh perwakilan ketua KOGTIK (Wijaya
Kusuma) menghimbau para peserta yang hadir untuk mengikuti dengan seksama
seminar tentang computer science yang diselenggarakan. Ketua AKTIFINDO Faturrahim
menyampaikan harapannya yakni dorongan dan agar TIK tetap masuk dalam kurikulum
pendidikan, melihat bahwa beberapa negara telah memasukan TIK dalam kurikulum
pendidikan.
Dilanjutkan dengan
penayangan video tentang pentingnya pembelajaran computer science. Video pertama yang ditayangkan tentang rapat
dengan menteri pendidikan. Harapan Anies Baswedan Indonesia bisa menjadi negara
produktif dan mandiri secara teknologi, bukan sekedar menjadi negara konsumsi.
Agar Indonesia tidak lagi terjajah, harus menjadi tuan rumah teknologi, pemain
dan produktif TIK. Video kedua tentang gagasan Obama yang menghimbau agar
masyarakat tidak hanya bermain games tapi juga menciptakan aplikasi games. Lalu
dilanjutkan dengan video tentang homeless programmer yang bisa berhasil dengan
memanfaatkan computer science. Dalam
video tersebut menjelaskan bagaimana computer
science adalah sebuah skill yang mampu menyejahterakan setiap pelakunya
jika dimanfaatkan dengan baik. Dalam seminar nasional yang direncanakan dengan
kehadiran Mendikbud kali ini diwakili dengan pemutaran video tentang rapat atau
diskusi bersama menteri dengan perwakilan guru TIK demi mempertanyakan nasib
mata pelajaran TIK yang tidak tercantum dalam kurikulum 2013.
Moderator Imam
Suwandi (Metro Tv) memberikan waktu 3 menit pertama untuk menanggapi
video-video yang telah ditampilkan di awal seminar kepada para narasumber.
Bapak Temu (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan) pada seminar
nasional komputer sains kali ini menjelaskan bahwasanya dalam Dirjen GTK sedang
dicanangkan peningkatan mutu guru (perencanaan kebutuhan guru, pendataan,
rekrutmen guru, pembinaan karir, calon pendidik, dan pelibatan publik), dia
sepakat guru dan siswa mesti belajar computer science. Lalu dilanjutkan di
sesi berikutnya dia menayangkan video tentang wajah pendidikan di nusantara
khususnya dari timur nusantara. Bagaimana wajah pendidikan nusantara yang masih
belum merata jika diharuskan untuk menjadikan TIK sebagai kurikulum nasional.
Heri Widiastono (perwakilan Dirjen Pusat Kurikulum dan
Perbukuan Bagian Tata Laksana dan Kepegawaian) sebagai
penanggungjawab pengembangan kurikulum 2013 pada seminar nasional komputer
sains kali ini dia membahas tentang kurikulum 2013 yang harus mendengar masukan
dari publik setelah diterapkan hanya untuk 6-7% sekolah di seluruh Indonesia.
Sisanya diperbolehkan untuk mengambil kebijakan sendiri atau mengacu kepada
KTSP 2006. Dia menjelaskan mengapa kurikulum harus selalu berubah, itu semata dikarenakan
kurikulum mesti mengikuti zamannya, kita tidak ingin ketinggalan atau siswa mempelajari
mata pelajaran yang tidak sesuai dengan zamannya.
Pada saat itu TIK
tidak masuk mata pelajaran, tapi dialihkan sebagai kemampuan yang mesti dimiliki
oleh setiap sekolah yang punya sarana dan prasarana yang merata. Karena pada
dasarnya masih ada sekitar 30% sekolah-sekolah yang belum dapat listrik ketika 2013.
Sekarang jumlahnya berkisar di angka 15-20%. Setelah peniadaan TIK yang tidak
masuk kurikulum sekolah timbul masalah yang pertama yakni guru TIK kehilangan
jam mata pelajaran dan kedua guru TIK menuntut agar TIK menjadi mata pelajaran
yang berdiri sendiri, solusinya dari KEMDIKBUD adalah TIK masuk lintas
minat/pendalaman minat/Bahasa Inggris/TIK yang bisa diterapkan sekolah yang
sudah mempunyai fasilitas yang mumpuni tetapi tetap tidak masuk dalam kurikulum
nasional.
Indra Charismiaji (Pakar Pendidikan) pada seminar
nasional komputer sains kali ini setelah diberi waktu dan kesempatan Indra
Charismiaji rupanya benar-benar mengerti waktu tiga menit yang diberikan
pertama oleh moderator untuk mengomentari tentang tayangan video yang diputar di
awal seminar. Indra charismiaji mengomentari dengan kritis bahwa dua tayangan pertama
tentang pejabat pemerintahan yang mengarahkan kepada publik untuk membuat
aplikasi atau memanfaatkan teknologi hanya sekedar wacana dan nasehat belum
mengarah kepada pembuat kebijakan strategis untuk computer science. Lalu Indra Charismiaji memetik pesan yang disampaikan
dalam video seorang pengemis yang didatangi oleh seorang karyawan untuk diberi
dua pilihan, yakni mau diberi uang seratus dolar atau mau dibelikan sebuah komputer
bekas dengan tambahan diajarkan untuk belajar koding untuk membuat aplikasi.
Pada akhirnya sang pengemis memilih untuk diajarkan untuk membuat koding dan ia
akhirnya menjadi sejahtera karena keahliannya bisa berguna untuk
menyejahterakan kehidupannya.
Indra menjelaskan
bahwa Computer Science adalah Computational
Thinking, bagaimana siswa yang mempelajarinya diajarkan cara berpikir
kritis, kreatif dan mengembangkan masalah teknologi. Computer science ada 4 tahapan; 1. Penguraian/Compotition menguraikan maslah besar menjadi masalah yang lebih
kecil, 2. Pattern Recognition/pengenalan
pola memilah pola yang sama dan berbeda, contoh: soal surat menyurat bisa lebih
mudah dan ringkas, 3. Abstraction
memilah yang penting dan tidak penting, 4. Setting/Design
Algorithm
Satria Dharma (Ketua IGI Pusat) pada seminar
nasional komputer sains kali ini di tiga menit pertama menjelaskan tentang perbedaan
antara teknologi informasi dan computer
science. Satria Dharma cenderung menunjukan jawaban pesimistis untuk
menerapkan TIK ke seluruh Indonesia dalam artian memasukannya ke dalam
kurikulum nasional, karena menurutnya masih banyak mata pelajaran yang lebih
prioritas untuk diterapkan dan masuk sebagai prioritas kurikulum nasional
seperti membaca dan menulis. Membaca adalah dasar dari semua kelimuan,
bagaimana bisa kita sebarkan minat baca yang tinggi ke seluruh Indonesia, kita
semua sepakat untuk sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa tentunya dengan
membaca.
Ono Widodo Purbo (Pakar IT) pada seminar
nasional komputer sains ini menjelaskan pemikiran Obama dan Anies Baswedan ini
hebat dan luar biasa, gagasan yang dicetuskan mereka ini benar bayangkan dalam
satu hari kita sudah bisa membuat aplikasi android yang bisa dimanfaatkan jadi
pada dasarnya kita bisa berubah asalkan ada kemauan.
Computer science itu murah, praktis, dan bisa dibuat dimana
saja kapan saja asal mau berubah. Scratch,
raspberry contohnya komputer yang harganya sekitar 150 ribuan atau 35 dolar
yag paling bagus ini bisa dicas menggunakan telepon genggam atau power bank. Ono menjelaskan bahwa
anak-anak kita harus dilatih menggunakan internet tanpa server yang harganya puluhan juta,
solusinya yakni bikin server sendiri,
e-learning sendiri, digital library sendiri, dengan harga server sekitar 10 jutaan daripada beli
mesin fotokopi seharga 10 juta mending bikin server sendiri seharga 10 jutaan.
Bisa digunakan untuk para siswa di pedalaman.
Intinya banyak
jalan menuju Roma agar TIK masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional.
Terutama teknik, untuk mewujudkan Indonesia yang madani orang kita harus banyak
mencipta bukan hanya sekedar membaca tapi sudah juga menulis, menulis yang
banyak karena tidak mungkin orang bisa menulis tanpa membaca. Sekali mendayung
dua tiga pulau terlampaui.
Pertanyaan
peserta:
1.
Ibu
Eni Suryaninsih dari Kab.Tangerang : computer
science berkarakter konkrit, amat dibutuhkan,
sebagi contoh proses penyerbukan-pembuahan pada tumbuhan (proses manual itu
lama sekali hingga 2 minggu) sedangkan proses virtual itu bisa lebih singkat.
Jika TIK hanya menjadi peminatan, bagaimana jika siswa tidak berminat padahal
ini sangat dibutuhkan. Pertanyaan yang kedua apa keunggulan produk EDMUNDO?
2.
Erlina
dari Pelangi Cyber School. Virtual lab menjadi lebih mudah dan waktunya lebih
singkat ketika kita menguasai TIK. Pertanyaannya apakah guru-guru kita mampu
menggunakan TIK di setiap pembelajarannya?
3.
Enggar
dari SMA 71 JAKARTA. Pernyataan tentang perlunya TIK atau computer science di sekolah.
4.
Agung
dari SKMN 13. Apa keunggulan dan kekurangan TIK ada di sekolah?
Kesimpulannya TIK
atau computer science belum bisa dijadikan kurikulum nasional karena
banyak kendala yang akan ditemui ketika menjadikan mata pelajaran TIK atau computer
science menjadi 24 jam penuh. Jalan
tengah yang diambil oleh kemdikbud yakni TIK boleh diterapkan menjadi kurikulum
sesuai dengan kebijakan sekolah masing-masing sama halnya ketika KTSP
dilaksanakan pada 2006. Para guru TIK dan asosiasi guru TIK akan tetap berusaha
untuk memperjuangkan agar mata pelajaran TIK bisa masuk ke dalam kurikulum
nasional. Demikianlah ringkasan seminar nasional yang berjalan dengan sukses,
semoga masih ada harapan agar Indonesia bisa menjadi poros kemajuan teknologi
minimal se-Asia Tenggara. Sekian dan terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar