Kamis, 27 Agustus 2015

Pendidikan di Indonesia


Pendidikan di Indonesia
sumber: http://goo.gl/NQpyfk
 

Pendidikan di Indonesia. Pendidikan itu bagai dua sisi mata uang yang tak akan bisa dihilangkan satu sisinya, ibarat guru dan murid. Sekalipun dibuang jauh-jauh maka ia akan tetap dekat dan pada kondisi apapun keduanya harus bersiap untuk menjadi sebaliknya. Guru harus selalu belajar dan murid harus siap menjadi guru dikemudian hari. Seperti halnya udara, tanah, air, dan api. Elemen kehidupan yang saling melengkapi satu dan lainnya. Jika kau pergi ke belahan bumi manapun pendidikan adalah hal terpenting untuk menyejahterakan rakyatnya. Kita lihat bukti nyata yang membangkitkan asa di asia timur, ketika negaranya dibombardir dengan serangan bom atom negara para samurai ini mampu bangkit. Paling mencengangkan adalah ungkapan kaisar Hirohito saat itu sebab yang ditanyakan oleh sang kaisar adalah bukan seberapa banyak pabrik yang masih berdiri, bukan pula seberapa banyak tentara yang masih tersisa, juga bukan seberapa besar kerugian negara, melainkan seberapa banyak sensei atau guru yang masih tersisa saat itu. Luar biasa. Betapa berharganya guru, bagi orang Jepang guru atau sensei adalah prioritas kehidupan mereka. Kata sensei sendiri dalam bahasa Jepang terdiri dari dua kanji. Kanji pertama berarti priority dan kedua berarti hidup. Jadi sewajarnya sensei diutamakan dalam kehidupan pengajaran dan pendidikan.

Bukan bermaksud menyudutkan bangsa sendiri, setidaknya dengan kita mengetahui prioritas negara-negara maju di luar sana dapat membuat kita sedikit berpikir bahwasanya peran guru, murid, perangkat sekolah atau apapun yang berkaitan dengan pendidikan di Indonesia adalah prioritas yang mesti kita beri perhatian lebih. Finlandia juga salah satu negara yang amat memperhatikan pendidikan. Guru di Finlandia adalah pekerjaan paling terhormat. Untuk bisa menjadi seorang guru, calon mahasiswa yang masuk perguruan tinggi keguruan adalah lulusan terbaik satu berbanding sepuluh lulusan terbaik. Luar biasa bukan. Begitu pula Jerman, Korea, Canada, dll.

"Education is the most powerful weapon which you can use to change the world." - Nelson Mandela

Perhatikan sejenak apa yang disampaikan Nelson Mandela di atas, bahwasanya pendidikan adalah senjata yang kuat dan ampuh untuk mengubah dunia. Selanjutnya tunggu apalagi untuk memajukan pendidikan di Indonesia, kita hanya perlu melakukan ATM (amati, tiru, dan modifikasi) ini yang dilakukan banyak bangsa maju di dunia. Mereka maju dalam waktu yang singkat dengan menggunakan rumus sederhana ini.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan SDA dan SDM yang berlimpah ruah. Dengan luas negara mencapai hampir dua juta kilometer persegi. Penduduknya dua ratus lima puluh juta jiwa. Air berlimpah, tanah yang subur, udara yang bagus, hutannya menjadi paru-paru dunia, tambangnya berkualitas super. Jika pendidikan di Indonesia bangkit lalu menjadi negara maju, maka dunia pasti tunduk. Tidak akan ada yang berani menghina dengan ucapan lisan maupun batin. Tapi pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apakah mungkin bangsa ini bisa mapan dalam waktu singkat jika semua lini kehidupan digerogoti berbagai macam kepentingan.

Sebagai anak bangsa sudah sepatutnya tidak berdiam diri menyaksikan nusantara tercinta berada dalam kebodohan sepanjang masa. Mari bangkit bersama setelah tujuh puluh tahun merdeka. Singsingkan lengan baju, bangun dari tidur yang menyakitkan. Majukan pendidikan di Indonesia dengan cinta.

Jika kita lihat sejarah pendidikan di Indonesia maka terbesit jelas di ingatan kita tentang Tut Wuri Handayani yang sering kita lihat sebagai simbol atau logo yang berada di topi sekolah, dasi sekolah, rapot sekolah, dll. Ini adalah ungkapan dari seorang guru bangsa yang biasa dipanggil Ki Hajar Dewantara, nama asli beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau mengatakan semboyan yang dijadikan logo tut wuri handayani oleh kementerian pendidikan secara lengkap

"Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani" - Ki Hajar Dewantara

Yang berarti di depan guru harus memberi teladan, di tengah guru harus membangun prakarsa dan ide, dari belakang guru harus memberikan dorongan dan arahan.

Pendidikan di Indonesia dari zaman penjajahan mengalami masa-masa kelamnya, dimana  rakyat sengaja dibudaki agar selalu menjadi bangsa yang bodoh. Rakyat miskin tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan tinggi saat itu. Bangsa kita menjadi bangsa budak sebelum kita merdeka, dijajah oleh bangsa Eropa dan Asia.

Sekarang, hari ini, wajah pendidikan di Indonesia sudah jauh lebih baik dari masa-masa penjajahan. Buta huruf sudah menurun, hanya tersisa beberapa persen dari jumlah penduduk Indonesia yang heterogen ini. Perguruan tinggi menjamur di seluruh Indonesia yang berarti akan menghasilkan sarjana-sarjana muda yang banyak sekali. Hampir seluruh rakyat Indonesia diwajibkan untuk lulus wajib belajar sembilan tahun oleh pemerintah. Alokasi dana pendidikan yang mencapai dua puluh persen dari APBN, menyamai alokasi dana pendidikan di negara-negara maju. Jika dinominalkan berarti sekitar seratus lima puluh triliyun untuk anggaran pendidikan, nominal yang tidak sedikit jika digunakan secara benar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Pemerintahan hari ini yang dipimpin oleh Anies Baswedan merupakan reformasi pendidikan yang sudah mengedepankan berbagai aspek, apalagi sebelumnya beliau menggawangi tercetusnya Yayasan Indonesia Mengajar yang bergerak di bidang pendidikan untuk memilih anak-anak muda agar bisa mengajar di pelosok tanah air. Sebuah gagasan cemerlang sebelum menjabat sebagai menteri pendidikan saat ini. Selanjutnya mari kita dukung dan awasi kiprah beliau untuk Indonesia yang madani.

Namun, di samping kabar baik yang sudah kita dengar hingga hari ini masih terdapat beberapa masalah yang mesti kita hadapi bersama. Pendidikan yang belum merata ke seluruh pelosok negeri, masih terpusatnya pendidikan dan pembangunan di pulau jawa padahal Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang hampir empat belas ribuan pulau Indonesia miliki dengan luas wilayah hampir dua juta kilometer persegi. Lalu masalah korupsi yang mengakar yang menjadi PR terberat hari ini karena korupsi bukan saja di bawah meja seperti dahulu tetapi sudah terang-terangan yang menjadi koruptornya bukan saja para pemimpin negara melainkan dari tukang parkir hingga tukang belingpun secara masif melakukan perbuatan dosa yang populer ini mengikuti jejak para pemimpin mereka di televisi. Pendidikan di Indonesia harus dijauhi dari praktek laknat ini, mari sama-sama kita awasi setiap kucuran dana yang keluar untuk pendidikan khususnya agar bangsa ini tidak lagi tidur sepanjang masa dimana bangsa lain sudah berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Sebuah tulisan sederhana untuk sekedar merenungi pendidikan di Indonesia. Mohon diralat jika masih banyak keurangan, terima kasih kawan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar